Seorang dari Sepuluh Anak Mendengkur Alami Gangguan Nafas

Bookmark and Share
shutterstock
Ilustrasi

Penilitian bertajuk PANIC, Physical Activity and Nutrition in Children di Finlandia, mengungkapkan fakta mengejutkan. Sepuluh persen dari anak usia 6 sampai 8 tahun ternyata mendengkur dan menderita sleep apnea. Ngorok dan mendengkur menyimpan gangguan yang tak bisa diremehkan, apalagi bagi anak-anak.

Dengkuran anak bisa saja pelan, tetapi gangguan nafas tetap terjadi. Henti nafas saat tidur atau dikenal dengan sebutan sleep apnea, pada orang dewasa telah dikenal menyebabkan hipertensi, diabetes, penyakit jantung hingga stroke. Namun pada anak-anak akibatnya bisa lebih memprihatinkan, langsung pada perilaku dan tumbuh kembangnya.

Ngorok pada anak disebabkan oleh saluran nafas atas yang menyempit saat tidur. Akibatnya secara periodik nafas tersumbat. Saat sesak, anak akan terbangun sejenak untuk kembali membuka jalan nafas. Lalu ia tertidur kembali tanpa sadar ia terbangun. Episode ini terjadi berulang kali sepanjang malam hingga proses tidur jadi terpotong-potong. Anak pun bangun tak segar dan terus mengantuk sepanjang hari. Hanya saja, manifestasi kantuk berlebihan pada anak akan berbeda dibanding dewasa.

Untuk melawan rasa kantuk, anak malah menjadi hiperaktif. Ia pun mengalami kesulitan untuk mempertahankan konsentrasi. Gangguan kemampuan menyerap pelajaran juga turut mengikuti. Terakhir, tahukah Anda bahwa proses tumbuh kembang anak terjadi pada saat tidur?

Dalam penelitian yang diterbitkan the European Journal of Pediatrics ini ditemukan bahwa penyebab utama sempitnya saluran nafas pada anak-anak ini adalah pembengkakkan amandel dan adenoid serta struktur wajah-rahang yang kecil. Bukan kegemukan seperti yang selama ini dipercaya, walau diakui kegemukan menjadi faktor yang memberatkan. Ketika anak mendengkur setiap malam, ia harus diperiksakan tidurnya untuk mengetahui apakah terjadi gangguan nafas atau tidak.

Pemeriksaan tidur di laboratorium tidur adalah pemeriksaan rutin untuk mendiagnosa sleep apnea pada anak. Dengan menggunakan polisomnografi, anak dilekatkan dengan sensor-sensor untuk merekam proses tidurnya. Prosedur ini sama sekali tidak menyakitkan. Malah menjadi pengalaman unik yang menyenangkan bagi anak. Jauh hari anak sudah diperkenalkan dan dipersiapkan dengan prosedur yang akan dilakukan.

Para ahli menekankan pentingnya mengatasi mendengkur sejak usia sedini mungkin. Ini untuk menghentikan laju kerusakan yang bisa diakibatkan sleep apnea. Perlu diingat, potensi anak tumbuh saat tidur. Jika terlambat, kita tak dapat mengulang proses itu lagi. Akhir kata, para ahli mengingatkan bahwa angka satu dari sepuluh anak ini bukan main-main. Anak dengan sleep apnea bisa alami gangguan pada tumbuh kembang dan perilakunya. Kualitas anak ditentukan oleh kualitas tidurnya.

Sumber: kompas.com

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Poskan Komentar