Aksi ekspansi maskapai jajal udara Indonesia

Bookmark and Share

Aksi ekspansi maskapai jajal udara Indonesia

Bisnis dunia penerbangan Indonesia, dinilai sebagai bisnis yang sangat seksi dan patut dilirik. Tingginya pertumbuhan ekonomi membuat permintaan tiket penerbangan terus bertambah.

Kementerian Perhubungan menegaskan pasar penerbangan nasional masih terus bertumbuh sekitar 15 persen sampai 20 persen per tahun, seiring pertumbuhan ekonomi nasional rata-rata 6 persen setahun.

Pada Semester pertama 2012, jumlah penumpang udara sudah bertumbuh 19 persen menjadi 38 juta orang, baik penumpang domestik maupun internasional.

Menteri Perhubungan EE Mangindaan mengatakan, analisa International Air Transport Assosiaction atau IATA memprediksi, pada 2014, Indonesia akan menjadi pasar terbesar kesembilan di dunia untuk penerbangan domestik.

Selain itu, Indonesia juga diprediksi menjadi pasar dengan pertumbuhan tercepat keenam di dunia untuk penerbangan internasional.Dengan tingginya permintaan dan cerah bisnis penerbangan tersebut, membuat beberapa maskapai harus melakukan ekspansi bisnis yang mengagumkan.

Dari catatan merdeka.com setidaknya ada beberapa aksi maskapai yang sempat membuat heboh dunia penerbangan Indonesia, selama medio 2012.

1. Garuda jadikan Citilink maskapai bertarif murah

Garuda Indonesia pada tahun 2012 telah resmi melepas anak usahanya yaitu Citilink untuk terbang sendiri. Kementerian Perhubungan menerbitkan surat izin usaha penerbangan (SIUP) Citilink pada 27 Januari 2012. Setalah SIUP, Citilink memiliki AOC 121, yaitu sertifikat yang diberikan pemerintah kepada maskapai yang mengoperasikan pesawat berkapasitas 30 kursi. 

Namun, pada akhir Juni 2012, PT Garuda Indonesia mengatakan unit bisnis low cost carrier (LCC) nya yakni Citilink, telah mendapatkan Air Operator Certificate (AOC) atau sertifikat penerbangan dari Kementerian Perhubungan. Dengan mengantongi cap resmi tersebut, Citilink resmi mengudara tanpa bendera Garuda.

Direktur Pemasaran dan Penjualan Garuda Indonesia Elisa Lumbantoruan menjelaskan, perseroan sudah mendapatkan AOC tersebut pada Jumat (22/6). "AOC 121-O46 sudah kita dapatkan pada Jumat lalu," kata Elisa ketika ditemui selesai RUPSLB Garuda di Cengkareng, Medio Juni. 

Setelah berpisah dari PT Garuda Indonesia, Citilink menargetkan akan memperoleh pendapatan hingga Rp 2 triliun pada tahun 2012 ini. Unit Usaha Strategis Garuda ini telah membukukan pendapatan hampir Rp 1 triliun dalam paruh tahun pertama tahun 2012 ini. 

Direktur Utama Citilink Arif Wibowo mengatakan untuk tahun 2013 perusahaan menargetkan akan mampu meraup pendapatan hingga Rp 4 triliun. "Pertumbuhan ini didukung oleh kapasitas dan pendapatan yang naik masing-masing naik 60 persen," ujar Arif ketika ditemui di Kantornya, Slipi, Jakarta.

2. Lion Air tantang Air Asia di Malaysia

Pada tahun 2012, Lion Air telah menantang AirAsia di rumahnya sendiri, Malaysia. Maskapai yang bernama PT Lion Mentari Airlines ini akan bekerjasama dengan pemerintahan Malaysia untuk membentuk maskapai dengan tarif rendah yang diberi nama Malindo Airways.

Aksi ekspansi maskapai jajal udara Indonesia

Menurut berita yang dilansir dari Bloomberg, Malindo Airways akan mulai terbang pada Mei tahun depan dengan 100 awak pesawat yang disiapkan selama 10 tahun. Malindo Airways sampai saat ini masih menunggu kepastian pemerintah Malaysia sebagai pemegang saham.

"Artinya belum ada pemahaman proses yang pasti walaupun izinnya sudah diberikan," ujarnya kepada merdeka.com, Jakarta, Kamis (15/11).

Dia mengakui selama dalam proses tersebut masih ada kendala terutama menyangkut kelengkapan dokumen. "Mungkin kendalanya karena belum adanya dokumen yang lengkap sehingga prosesnya masih lama," ujarnya.

Malindo merupakan perusahaan patungan National Aerospace dan Defence Industries (NADI) Malaysia dan Lion Air. Malindo rencananya akan melayani penerbangan internasional dengan pasar penerbangan murah layaknya AirAsia.

Rute yang dibidik adalah rute di luar Indonesia-Malaysia yang saat ini telah dilayani Lion Air. Rencananya, Malindo akan mempunyai 100 unit pesawat dalam 10 tahun setelah beroperasi pada Maret 2013.

3. AirAsia jadi pembeli terbesar Airbus

Aksi ekspansi maskapai jajal udara Indonesia

Pada tahun ini, AirAsia memesan 100 unit pesawat Airbus 320, sembilan unit diantaranya untuk memperkuat pasar domestik AirAsia di Indonesia pada tahun depan.

Dengan pemesanan 100 Airbus A320, total pesawat yang dipesan AirAsia sebanyak 475 unit. Terdiri dari 264 unit A320neo dan 211 unit A320ceo. Lebih dari 100 pesawat telah diterima oleh AirAsia, sedangkan untuk pengiriman pesawat akan dilakukan sampai 2021.

Pemesanan tersebut terdiri dari 64 unit Airbus jenis A320neo yang mengangkat keunggulan dalam pengiritan bahan bakar dan 36 Airbus jenis A320s untuk menambah armada 375 unit yang sudah dimiliki oleh AirAsia.

"AirAsia telah menjadi pelanggan Airbus terbesar dalam sejarah. Siapa yang akan percaya?" ujar CEO AirAsia Tony Fernandes dalam akut Twitter resminya Kamis (13/12) malam.

"Kami baru saja membeli 100 pesawat yang menjadikan total (pesawat) 475. (Hal ini) untuk memenuhi permintaan di Asia yang luar biasa," katanya.

Pihak pemerintah Inggris yang bekerja sama dengan Prancis, Jerman dan Spanyol dalam memproduksi Airbus menyatakan pemesanan tersebut dapat menyelamatkan 9.000 tenaga kerja di Inggris termasuk 1.500 pegawai di Airbus.

"Ini adalah berita luar biasa dan dorongan untuk tenaga kerja serta industri pengolahan di Inggris," ujar Perdana Menteri Inggris David Cameron dalam keterangan tertulisnya seperti yang dikutip dari Reuters.

4. Batavia Air gagal dicaplok AirAsia

Kamis, 26 Juli 2012, Batavia Air dikabarkan telah resmi dijual kepada maskapai penerbangan asal Malaysia, AirAsia. Batavia dijual dengan harga USD 80 juta atau Rp 762 miliar kepada maskapai yang bergerak pada penerbangan tarif murah tersebut. Dengan aksi ekspansi tersebut, keluarga Yudiawan Tansari tidak lagi mempunyai saham di maskapai tersebut.

Aksi ekspansi maskapai jajal udara Indonesia

Ketua asosiasi angkutan penerbangan (Inaca) Emirsyah Satar mengatakan proses akuisisi yang dilakukan perusahaan asal Malaysia tersebut, sangat wajar mengingat potensi penerbangan Indonesia yang besar dan sangat menjanjikan. 

"Ini wajar saja. Itu menunjukkan potensi penerbangan di Indonesia itu besar. Gitu saja," katanya.

Namun ternyata, pada pertengahan Oktober 2012 aksi yang sempat menghebohkan ini gagal ditindaklanjuti.  AirAsia Berhad mengubah strategi dari kesepakatan yang telah dicapai pada 26 Juli 2012 itu.

CEO Grup AirAsia Tony Fernandes menjelaskan, pihaknya melakukan perubahan strategi pada Conditional Share Sale Agreement (CSSA) bersama rekan usahanya. 

Menurut Tony, setelah melakukan studi dan proses diskusi yang panjang, berbagai perbedaan budaya dari kedua perusahaan telah menimbulkan perubahan pada persetujuan awal. Proses menyatukan dua perusahaan dengan budaya yang berbeda ini ternyata memerlukan waktu dan usaha yang lebih banyak dari yang diperkirakan sebelumnya.   

"Dari awal kami tahu bahwa ini tidak akan menjadi transaksi yang mudah. Akan tetapi, kami mendapat pengalaman dan pelajaran yang sangat berharga, terutama dalam hal mengembangkan usaha kami di Indonesia," kata Tony di Jakarta.

5. Sukhoi Jet100 diizinkan mengudara

Pemerintah akhirnya mengizinkan pesawat Sukhoi untuk mengudara di langit Indonesia. Kementerian Perhubungan telah mengeluarkan sertifikat untuk pesawat Sukhoi SJ100 dengan tipe RRJ95D.

Aksi ekspansi maskapai jajal udara Indonesia

Dengan adanya pemberian sertifikasi untuk pesawat Sukhoi, sudah memberikan kepastian bahwa pesawat tersebut layak terbang di Indonesia. Paling tidak ada dua perusahaan yang akan menggunakan Sukhoi tipe tersebut, yaitu Sky Aviation dan Kartika Airlines. Sky Aviation diketahui telah memesan 30 unit dan Kartika 12 unit. Rencananya mulai Desember ini pesawat mulai datang ke Indonesia.

Medio, 9 Mei lalu pesawat Sukhoi Superjet 100 tipe RRJ95D jatuh di Gunung Salak dan menewaskan 45 awak penumpang yang tengah melakukan joy flight.

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengatakan hasil investigasinya jika kecelakaan tersebut karena kelalaian pilot yang mengobrol dengan penumpang dan tidak mempelajari peta penerbangan.

Sumber : merdeka.com

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Poskan Komentar