Contoh Skripsi - Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Bayi Berat Badan Lahir Rendah

Bookmark and Share
Skripsi  Kesehatan - Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Bayi Berat Badan Lahir Rendah.

BAB I PENDAHULUAN.

1.1. Latar Belakang


Pembangunan Kesehatan sebagai salah satu upaya Pembangunan Nasional diarahkan guna tercapainya kesadaran, kemauan dan kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal (Depkes, 1992). Visi Pembangunan Kesehatan sebagaimana dirumuskan dalam Visi  Indonesia Sehat 2010 adalah masyarakat, bangsa dan negara yang ditandai oleh penduduknya hidup dalam lingkungan dan perilaku sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya di seluruh wilayah Republik Indonesia (Depkes, 1999).

Salah satu aspek pembangunan kesehatan adalah kesehatan reproduksi yang merupakan bagian penting dari program kesehatan dan merupakan titik pusat Sumber Daya Manusia (SDM) mengingat pengaruhnya terhadap setiap orang dan mencakup banyak aspek kehidupan sejak dalam kandungan sampai pada kematian. Pelayanan kesehatan reproduksi mencakup empat komponen esensial yang mampu memberikan hasil yang efektif dan efisien bila dikemas dalam pelayanan yang terintegrasi.

Empat komponen tersebut tercakup dalam Paket Pelayanan Kesehatan Reproduksi Esensial yaitu Kesehatan Ibu dan Bayi Baru Lahir, Keluarga Berencana, Kesehatan Reproduksi Remaja, dan Pencegahan dan Penanggulangan Infeksi Menular Seksual  (USAID, 2003).

Angka    Kematian Bayi (AKB) di Indonesia masih relatif tinggi bila dibandingkan dengan negara-negara tetangga, sebagai perbandingan dengan negara lain pada tahun 2002, AKB di negara    Singapura: 4 per 1000 kelahiran hidup, Malaysia: 12 per 1000 kelahiran hidup, Thailand: 32 per 1000 kelahiran hidup, Brunei: 8 per 1000 kelahiran hidup, dan Vietnam: 39 per 1000 kelahiran hidup, sedangkan Indonesia : 52 per 1000 kelahiran hidup. Pada skala nasional juga masih terdapat kesenjangan AKB antar propinsi yaitu Propinsi Nusa Tenggara Barat sebesar 103 per 1000 kelahiran hidup (tertinggi) dengan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang hanya 23 per 1000 kelahiran hidup (terendah), sedangkan Propinsi  Lampung sebesar 55 per 1000 kelahiran hidup. Maka menurut perkiraan setiap tahunnya terdapat sekitar 400 ribu bayi lahir dengan BBLR (SDKI, 2002).

Bayi BBLR adalah bayi baru lahir yang berat badan lahirnya pada saat kelahiran kurang dari 2.500 gram. Dahulu neonatus dengan berat badan kurang atau sama dengan 2.500 gram disebut prematur. Pada tahun 1961 oleh WHO (World Helath Organization) semua bayi yang baru lahir dengan berat lahir kurang dari 2.500 gram disebut Low Birth Weight Infants (BBLR).

Berdasarkan perkiraan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 1995 hampir semua (98%) dari lima juta kematian neonatal terjadi di negara berkembang, lebih dari dua pertiga kematian itu terjadi pada periode neonatal dini, umumnya  dikarenakan berat badan lahir kurang dari 2.500 gram. Menurut WHO, 17% dari 25 juta kehamilan per tahun adalah BBLR dan hampir semua terjadi di negara berkembang. Sedangkan Kejadian BBLR di Indonesia pada tahun 2005 sebesar 13,4% (Depkes, 2006).

Menurut SDKI (2002), baik di negara maju maupun negara berkembang BBLR merupakan penyebab utama kematian bayi. Manuaba (1998) menjelaskan bahwa banyak faktor penyebab terjadinya BBLR diantaranya faktor ibu (umur, umur kehamilan, peritas, status anemia, penyakit penyerta, sebab lain), faktor janin (hidramnion, kehamilan ganda, dan kelainan kromosom), dan faktor lingkungan (tinggal di daerah tinggi radiasi dan beracun).  Akibat yang ditimbulkan oleh bayi dengan BBLR selain kematian juga dapat menimbulkan    berbagai    komplikasi    diantaranya    adalah    kerusakan    bernafas, pneumonia, dan perdarahan intraventrikuler bayi (Surasmi, 2003).

Hasil perolehan data dari Rumah Sakit Urip Sumoharjo diketahui bahwa pada tahun 2004 jumlah kunjungan ibu hamil yang memeriksakan kehamilan dan melakukan persalinan dengan berat badan bayi normal (diatas 2.500 gram) sebanyak 237 kasus dan dengan BBLR 25 kasus. Hingga pada tahun 2005 kasus BBLR di Propinsi Lampung dilaporkan adalah 1.217 kasus atau 11,2% dari seluruh kelahiran (Dinkes Provinsi Lampung, 2006). 

Adapun di Kota Bandar Lampung kasus BBLR pada tahun 2005 sebanyak 186 kasus (7,1%) dan pada tahun 2006 sebanyak 288 kasus (8,6%). Sedangkan kasus BBLR di Rumah Sakit Urip Sumoharjo Kota Bandar Lampung pada tahun 2006 sebanyak 68 kasus (22,5%) dari seluruh persalinan (Catatan Medis RS. Urip Sumoharjo, 2007).

Berdasarkan    fenomena dan data di atas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian BBLR di Rumah Sakit Urip Sumoharjo Kota Bandar Lampung tahun 2006.

1.2. Identifikasi dan Perumusan Masalah.

Baca Selengkapnya, DOWNLOAD DISINI

Terima kasih atas kunjungannya di blog "Menara Ilmu" semoga artikel  tentang Skripsi - Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Kejadian Bayi Berat Badan Lahir Rendah bermanfaat untuk anda.

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Poskan Komentar